Minggu, 10 November 2013

Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif


STOP KECURANGAN UN

KURANG lebih dua bulan lagi Ke­menterian Pendidikan Nasional akan menyelenggarakan hajat besar. Yakni menyelenggarakan Ujian Nasional (UN) untuk SMP-SMA. Meskipun kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun, akan tetapi dalam proses selalu menimbulkan kontroversi. Polemik yang sering muncul dalam setiap kali pelaksanaan UN adalah adanya jual beli kunci jawaban. Banyak sekali spekulan yang menjual jawaban yang tidak benar, korbannya tentu orang tua dan siswa yang berpikiran pendek. Selain itu, praktik kerja sama dan menyontek juga masih sering dilakukan siswa supaya bisa lulus ujian. Semua itu menjadi catatan buruk bagi Kemendiknas dalam penyelenggarakan UN. Hal itu juga sering diperparah dengan adanya intervensi dari pihak terkait, terutama sekolah yang menginginkan siswanya lulus 100% dengan cara membuka soal terlebih dahulu kemudian dikerjakan guru dan jawabannya disebarkan kepada anak didik. Kecurangan semacam itu masih sering mewarnai pelaksanaan UN tiap tahun. Alasan yang digunakan karena malu jika ada anak didik sekolah yang bersangkutan tidak lulus. Maraknya praktik mafia dalam UN sangat memprihatinkan. Seharusnya UN dilaksanakan dengan cara-cara yang fair dan elegan, bukan dengan cara-cara yang curang. Apalagi kecurangan sangat bertentangan dengan ruh pendidikan yang mengajarkan pentingnya nilai kejujuran. Modifikasi Soal Langkah Kemendiknas dengan menambah jumlah paket soal yang semula dua paket menjadi lima paket patut diapresiasi. Dengan lima paket soal yang berbeda, tentu akan mengurangi praktik jual beli jawaban UN serta meminimalikan peluang kerja sama dan aksi menyontek siswa ketika ujian berlangsung. Bukan hanya itu. Dengan modifikasi soal ujian, akan memperkecil intervensi dari berbagai pihak. Yang terpenting saat ini harus ada sosialisasi kepada seluruh Dinas Pendidikan di tingkat provinsi, kabupaten/kota, serta sekolah dengan adanya sistem baru yang akan diterapkan, terutama dalam hal paket soal. Tujuannya agar siswa yang ikut UN juga mempersiapkan diri sebaik mungkin dalam menghadapi soal-soal yang berbeda antara siswa satu dengan yang lain. Meskipun ada pro dan kontra dalam sistem baru UN, itu adalah wajar. Jika sistem ini berhasil dan bisa menekan kecurangan dalam pelaksanaan UN, tentu akan lebih baik, dengan harapan kualitas pendidikan semakin meningkat.

Contoh Kalimat Aktif dan Kalimat Pasif :
Kalimat Aktif : Kementrian Pendidikan Nasional Akan Menyelenggarakan Hajat Besar
Kalimat Pasif : Akan Diselenggarakannya Hajat Besar Oleh Kementrian Pendidikan Nasional
Kalimat Aktif : Siswa Yang Berpikiran Pendek
Kalimat Aktif : Anak Didik Sekolah Yang Bersangkutan Tidak Lulus

rujukan :

Softskill Prilaku Konsumen


PEMBELIAN YANG BERKAITAN DENGAN PRILAKU KONSUMEN

Prilaku Konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevalusian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Namun ada pula yang mengartikan Perilaku Konsumen sebagai hal-hal yang mendasari untuk membuat keputusan pembelian misal untuk barang berharga jual rendah maka proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah sedangkan untuk barang berharga jual tinggi maka proses pengambilan keputusan akan dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Perilaku permintaan konsumen terhadap barang dan jasa akan dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya yaitu pendapatan, selera konsumen dan harga barang. Setiap hari kita melakukan pemilihan atau menentukan skala prioritas karena kebutuhan yang tidak terbatas sedangkan sumber daya yang tersedia sangat terbatas. Konsep pemilihan ini merupakan perilaku mendasar dari konsumen. Konsep dasar perilaku konsumen menyatakan bahwa konsumen selalu berusaha untuk mencapai kegunaan maksimal dalam pemakaian barang yang dikonsumsinya. Kegunaan (Utility) adalah derajat seberapa besar sebuah barang atau jasa dapat memuaskan kebutuhan seseorang.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Membeli
Tujuan kegiatan pemasaran adalah mempengaruhi pembeli untuk bersedia membeli barang dan jasa perusahaan  pada saat mereka membutuhkan. Keputusan membeli pada dasarnya berkaitan dengan“mengapa” dan “bagaimana” tingkah laku konsumen

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan membeli:
Kebudayaan : Kebudayaan ini sifatnya sangat luas, dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Kebudayaan adalah simbul dan fakta yang kompleks, yang diciptakan oleh manusia, diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur tingkah laku manusia dalam masyarakat yang ada.

Kelas social : Pembagian masyarakat ke dalam golongan/ kelompok berdasarkan pertimbangan tertentu, misaltingkat pendapatan, macam perumahan, dan lokasi tempat tinggal 

Kelompok referensi kecil : Kelompok ‘kecil’ di sekitar individu yang menjadi rujukan bagaimana seseorang harus bersikap dan bertingkah laku, termasuk dalam tingkah laku pembelian, misal kelompok keagamaan, kelompok kerja, kelompok pertemanan, dll

Keluarga lingkungan : inti dimana seseorang hidup dan berkembang, terdiri dari ayah, ibu dan anak. Dalam keluarga perlu dicermati pola perilaku pembelian yang menyangkut:
·         Siapa yang mempengaruhi keputusan untuk membeli.
·         Siapa yang membuat keputusan untuk membeli.
·         Siapa yang melakukan pembelian.
·         Siapa pemakai produknya.

Pengalaman : Berbagai informasi sebelumnya yang diperoleh seseorang yang akan mempengaruhi perilaku selanjutnya 

Kepribadian : Kepribadian dapat didefinisikan sebagai pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan untuk beringkah laku

Sikap dan kepercayaan : Sikap adalah suatu kecenderungan yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah yang baik ataupun kurang baik secara konsisten. Kepercayaan adalah keyakinan seseorang terhadap nilai-nilai tertentu yang akan mempengaruhi perilakunya 

Konsep diri : Konsep diri merupakan cara bagi seseorang untuk melihat dirinya sendiri, dan pada saat yang sama ia mempunyai gambaran tentang diri orang lain.


Tugas Softskill Segmentasi Pasar


SEGMENTASI PASAR adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Segmentasi pasar juga dapat diartikan sebagai proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar produk, menganalisis perbedaan antara pembeli di pasar.
Dalam penetapan segmentasi pasar, terdapat beberapa hal yang menjadi dasarnya yaitu:

Dasar–dasar segmentasi pasar pada pasar konsumen
Variabel geografi : Variabel tersebut, antara lain: wilayah, ukuran daerah, ukuran kota, dan kepadatan iklim.
Variabel demografi : Variabel tersebut, antara lain: umur, keluarga, siklus hidup, pendapatan, pendidikan, dll.
Variabel psikologis : Variabel tersebut, antara lain: kelas sosial, gaya hidup, dan kepribadian.

Dasar–dasar segmentasi pada pasar industri
Tahap 1, yaitu menetapkan segmentasi makro, yakni pasar pemakai akhir, lokasi geografis, dan banyaknya langganan.
Tahap 2, yaitu sikap terhadap penjual, ciri–ciri kepribadian, kualitas produk, dan pelanggan.

Ada beberapa syarat segmentasi yang efektif, yaitu:
1.      Dapat diukur
2.      Dapat dicapai
3.      Cukup besar atau cukup menguntungkan
4.      Dapat dibedakan
5.      Dapat dilaksanakan

Pembelian mempunyai kebutuhan dan keinginan yang unik. Setiap pembeli, berpotensi menjadi pasar yang terpisah. Oleh karena itu segmentasi pasar dapat dibangun pada beberapa tingkat yang berbeda.

Pemasaran missal : Pemasaran massal berfokus pada produksi massal, distribusi massal, dan promosi massal untuk produk yang sama dalam cara yang hampir sama keseluruh konsumen.

Pemasaran segmen : Pemasaran segmen menyadari bahwa pembeli berbeda dalam kebutuhan, persepsi, dan perilaku pembelian.

Pemasaran ceruk : Pemasaran ceruk (marketing niche) berfokus pada sub-group di dalam segmen-segmen. Suatu ceruk adalah suatu grup yang didefiniskan dengan lebih sempit.

Pemasaran mikro : Praktik penyesuaian produk dan program pemasaran agar cocok dengan citarasa individu atau lokasi tertentu. Termasuk dalam pemasaran mikro adalah pemasaran lokal dan pemasaran individu.

Manfaat dari segmentasi pasar adalah:
Penjual atau produsen berada dalam posisi yang lebih baik untuk memilih kesempatan-kesempatan pemasaran.
Penjual atau produsen dapat menggunakan pengetahuannya terhadap respon pemasaran yang berbeda-beda, sehingga dapat mengalokasikan anggarannya secara lebih tepat pada berbagai segmen.
Penjual atau produsen dapat mengatur produk lebih baik dan daya tarik pemasarannya

Softskill Jurnal Prilaku Konsumen


Jurnal Perilaku Konsumen
Tema : Perilaku Konsumen
PERILAKU KONSUMEN DALAM PENGGUNAAN KARTU KREDIT DI
WILAYAH DKI JAKARTA
Risna Sulistyawaty
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana jenis penggunaan kartu kredit dapat memprediksi pengelompokkan konsumen ke dalam kelompok pengguna dan kelompok bukan pengguna kartu kredit selain itu faktor-faktor apa saja yang menjadi motivasi konsumen untuk menggunakan dan tidak menggunakan kartu kredit. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan menggunakan data primer, data primer ini diperoleh dengan melalui penyebaran kuesioner dan alat analisis yang digunakan adalah analisis faktor dengan metode KMO dan Bertlett’s Test dan Anti-Image Correlation. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa ada tiga kelompok pemakai kartu kredit yaitu kelompok pemakai jarang, kelompok pemakai sedang dan kelompok pemakai sering dan kesimpulan berikutnya ada dua faktor yang mempengaruhi pengguna kartu kredit yaitu faktor keunggulan dan faktor kemudahan dan hanya satu faktor yang mempengaruhi bukan pengguna kartu kredit yaitu factor tidak butuh. Kata kunci : Kartu Kredit, Cluster Pemakai Kartu Kredit, Faktor-faktor yang Memotivasi.

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Di jaman era globalisasi ini untuk melakukan transaksi, dapat digunakan berbagai sarana pembayaran, mulai dari cara yang paling tradisional, sampai dengan cara yang paling modern sekalipun. Sejalan dengan perkembangan jaman ditemukan cara yang paling efisien dan efektif untuk melakukan transaksi pembayaran yaitu dengan menggunakan kartu plastik atau lebih dikenal dengan kartu kredit yang mampu menggantikan fungsi uang sebagai alat pembayaran. Kartu kredit ini dapat pula digunakan untuk berbagai keperluan yang berfungsi sebagai alat pembayaran tunai. Penggunaan kartu kredit dirasakan lebih aman dan praktis untuk segala keperluan, seperti untuk keperluan uang tunai dalam bepergian, bahkan dewasa ini kartu kredit sudah dapat digunakan untuk segala bentuk pembayaran secara internasional. Pelopor pengembangan kartu kredit di Indonesia dilakukan oleh Citibank dan Bank Duta. Dewasa ini jenis kartu kredit yang beredar adalah Master Card, Visa Card, Visa BCA, Dinner Club, Amex Card dan kartu-kartu kredit lainnya. Khusus untuk Dinner Club merupakan kartu kredit yang bukan dikeluarkan oleh bank, akan tetapi oleh lembaga pembiayaan seperti PT. Dinner Jaya Indonesia.

Perumusan Masalah
Kehidupan di kota-kota besar yang penuh kesibukan membuat orang cenderung menginginkan yang serba cepat, mudah dan praktis termasuk untuk kegiatan yang bersifat konsumtif. Fenomena ini oleh pihak bank selaku penerbit kartu kredit dijadikan acuan untuk menawarkan kepraktisan dan keamanan dalam berbelanja. Adanya kartu kredit ini bagi sebagian orang benar-benar mendukung gaya hidup yang dianutnya, sehingga mereka memanfaatkan pada hampir semua transaksi pembelian barang atau jasa. Sebagian lainnya walaupun memakai kartu kredit, hanya memanfaatkan sekali-kali saja, namun masih ada pula orang yang tetap menganut gaya hidup tradisional yang lebih senang membayar tunai untuk segala sesuatu yang dibelinya.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana jenis penggunaan kartu kredit dapat memprediksi cluster konsumen ke dalam kelompok pengguna kartu kredit dan kelompok bukan pengguna kartu kredit dan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi motivasi responden untuk menggunakan kartu kredit dan tidak menggunakan kartu kredit. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini diharapkan bisa dianggap sebagai pembuktian empiris model alternatif untuk memprediksi cluster konsumen ke dalam kelompok pemakai kartu kredit dan bukan pemakai kartu kredit dalam kaitannya dengan gaya hidup seseorang terhadap kartu kredit, hasil penelitian ini dapat diharapkan akan memberikan jawaban tentang pemanfaatan kartu kredit dari masing-masing kelompok pemakai kartu kredit dan hasil studi tentang kartu kredit ini diharapkan akan memberikan jawaban terhadap kebutuhan akan studi tentang kartu kredit yang semakin dirasakan kepentingannya dalam era globalisasi.
TINJAUAN PUSTAKA
Tujuan utama pemasar adalah melayani dan memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Oleh karena itu, pemasar perlu memahami bagaimana perilaku konsumen dalam usaha memuaskan kebutuhan dan keinginannya. Menurut Engel et.al. (2001), menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan langsung untuk mendapatkan konsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan ini. Kotler dan Amstrong (2003), mengemukan bahwa perilaku konsumen adalah perilaku pembelian konsumen akhir, baik individu maupun rumah tangga yang membeli produk untuk konsumsi personal. Sementara itu, Mowen et.al. (2001), mengemukan bahwa perilaku konsumen adalah studi tentang unit pembelian dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi dan pembuangan barang dan jasa, pengalaman serta ide-ide. 3 Definisi terakhir sangat sederhana tetapi mengandung sejumlah konsep penting. Pertama, proses pertukaran dimana segala sumber daya ditransfer diantara kedua belah pihak antar konsumen dengan perusahaan yang melibatkan serangkaian langkahlangkah, dimulai dari tahap perolehan atau akuisisi, lalu ke tahap konsumsi, dan berakhir dengan tahap disposisi produk atau jasa. Kedua, unit pembelian, hal ini dikarenakan pembelian dilakukan oleh kelompok ataupun individu, dimana keputusan pembelian dilakukan oleh individu atau sekelompok orang. Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen berkaitan erat dengan proses pengambilan keputusan untuk menggunakan barang atau jasa untuk memuaskan kebutuhannya. Dalam ilmu ekonomi dikatakan bahwa manusia adalah makhluk ekonomi yang selalu berusaha memaksimalkan kepuasannya dan selalu bertindak rasional. Para konsumen akan berusaha memaksimalkan kepuasannya selama kemampuan finansialnya memungkinkan. Mereka memiliki pengetahuan tentang alternatif produk yang dapat memuaskan kebutuhan mereka. Selama utilitas marjinal yang diperoleh dari pembelian produk masih lebih besar atau sama dengan biaya yang dikorbankan, konsumen cenderung akan membeli produk. Pada hakikatnya kebutuhan konsumen akan mengalami perubahan dalam hidupnya sejalan dengan perubahan sosial, ekonomi dan budaya yang terjadi pada lingkungan dimana mereka hidup. Perubahan tersebut akan mempengaruhi perilaku konsumen, yaitu dalam mengambil keputusan pembelian atau penggunaan suatu produk barang dan jasa. Zeithaml dan Bitner (2000), berpendapat bahwa tahapan-tahapan yang dilakukan konsumen dalam pengambilan keputusan dan mengevaluasi jasa yang ditawarkan dapat dibagi menjadi empat sebagai berikut : pencarian sumber-sumber informasi, penilaian berbagai alternatif jasa, pembelian dan penggunaan, dan evaluasi pasca pembelian. Berdasarkan model perilaku konsumen yang berhubungan dengan pengambilan keputusan, penggunaan atau pembelian suatu produk jasa, dalam hal ini kartu kredit, maka setiap bank harus mengetahui tentang kebutuhan dan karakteristik nasabah (karakteristik individu) yang mendasar yang sangat diperlukan untuk pelaksanaan suatu program kinerja bauran pemasaran jasa. Karakteristik individu merupakan suatu proses psikologis yang mempengaruhi individu dalam memperoleh, mengkonsumsi serta menerima barang dan jasa serta pengalaman. Karakteristik individu terdiri dari : sumber daya konsumen; motivasi; keterlibatan; pengetahuan; sikap; kepribadian; nilai dan gaya hidup. Karena dengan memahami gaya hidup konsumen akan sangat bermanfaat bagi pemasar. Terdapat empat manfaat yang dapat diperoleh pemasar dari pemahaman terhadap gaya hidup konsumen. Pertama, pemasar dapat menggunakan gaya hidup konsumen untuk melakukan segmentasi dan memposisikan produk di pasar sasaran. Kedua, pemahaman gaya hidup konsumen juga akan membantu dalam memposisikan produk di pasar dengan menggunakan iklan. Ketiga, jika gaya hidup telah diketahui, maka pemasar dapat menempatkan iklan produknya pada media yang paling cocok. Keempat, mengetahui gaya hidup konsumen berarti pemasar dapat mengembangkan produk sesuai dengan tuntutan gaya hidup mereka. Kotler (1988), mengatakan bahwa gaya hidup merupakan pola hidup seseorang di dalam dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat dan pendapat orang tersebut. Gaya hidup menggambarkan kehidupan manusia secara keseluruhan yang berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup merefleksikan sesuatu yang melebihi kelas social 4 maupun kepribadian seseorang. Gaya hidup digunakan untuk segmentasi pasar karena gaya hidup menggambarkan secara luas kehidupan sehari-hari konsumen. Menurut Plummer (1974), segmentasi pasar berdasarkan gaya hidup berorientasi pada konsumen dan bukan berorientasi pada produk. Oleh kaena itu segmentasi pasar berdasarkan gaya hidup dapat mengelompokkan konsumen ke dalam berbagai jenis gaya hidup yang unik berdasarkan aktivitas, minat dan pendapat konsumen. Pola konsumsi dengan menggunakan kartu kredit terlihat ada kaitannya dengan kelas sosial, tingkat penghasilan dan gaya hidup seseorang. Penelitian yang dilakukan oleh Slocum dan Matthews (1970), di Amerika Serikat menunjukkan bahwa orangorang dari kelas sosial yang lebih rendah cenderung memakai kartu kredit untuk tujuan angsuran sedang orang-orang dari kelas sosial yang lebih tinggi untuk tujuan kemudahan. Selain itu, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa semua pemakai kartu kredit secara umum mempunyai sikap positif terhadap kredit. Namun demikian pemakai dengan tujuan angsuran cenderung menggunakan kartu kredit lebih sering ketimbang pemakai dengan tujuan kemudahan. Menurut Ingene dan Levy (1982), ada tiga alasan mengapa seseorang memilih untuk memakai kartu kredit daripada membayar tunai. Pertama, karena konsumen membutuhkan kredit untuk mampu membeli barang atau jasa yang diinginkan. Kedua, konsumen ingin memanfaatkan kenyamanan untuk tidak perlu membawa-bawa uang tunai. Ketiga, konsumen merupakan orang yang sangat perhitungan dan memahami keuntungan yang diperoleh dari membeli sekarang dan membayar kemudian.
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian ini menggunakan metode kajian lapangan (field studies) yaitu suatu kajian ilmiah Non Eksperimental yang secara sistematis mempelajari hubungan atau korelasi dan menguji hipotesis, serta dilakukan dalam situasi kehidupan nyata (Kerlinger, 1986). Selain itu peneliti menggunakan data gabungan yaitu : data primer dengan menyebarkan kuesioner kepada konsumen dan data sekunder yang didapat dari beberapa buku, penelitian sebelumnya, dan dari internet. Perilaku pemegang kartu kredit dan bukan pemegang kartu kredit adalah skor yang diperoleh dari penelitian melalui kuesioner tentang perilaku konsumen dengan dimensi motivasi yang mendorong konsumen menggunakan kartu kreditnya di wilayah DKI Jakarta. Untuk pengguna kartu kredit dilihat dari indikator yaitu : praktis dan aman, cadangan uang, fasilitas dan kemudahan, diskon khusus, beli sekarang dan membayar kemudian dan reward. Untuk bukan pengguna kartu kredit dapat dilihat dari indikator yaitu : belum perlu akan kartu kredit, belum tertarik akan kartu kredit dan tidak menyukai segala bentuk kredit. Dalam melakukan penelitian ini sampel yang diambil dari populasi menggunakan judgment sampling, yaitu suatu prosedur dimana peneliti menggunakan segala upaya dalam memilih sampel yang dirasa cocok dalam penelitiannya. Prosedur dan tehnik pengambilan digunakan judgment sampling sebanyak 100 responden yang mempunyai dan tidak mempunyai kartu kredit di 3 wilayah DKI Jakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan survey langsung terhadap responden melalui pemberian kuesioner. Bentuk jawaban atau tanggapan biasa digunakan dalam kuesioner adalah bentuk format likert yang didesain agar memungkinkan konsumen untuk menjawab pertanyaan dengan variasi derajat tertentu. Jawaban setiap item 5 instrumen yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari jawaban negative (dengan angka rendah) sampai dengan jawaban positif (angka besar) yang ditunjuk dengan skor / nilai tertentu. Setelah data yang dibutuhkan telah didapat, maka melakukan pengolahan data. Dalam penelitian ini ada 3 (tiga) cara yang dipakai untuk menganalisis data yaitu : pertama, uji reliabilitas; untuk mengetahui apakah alat pengumpulan data pada dasarnya menunjukkan tingkat ketepatan, keakuratan, kestabilan atau konsistensi alat tersebut dalam mengungkapkan gejala tertentu dari sekelompk individu, walaupun dilakukan pada waktu yang berbeda. Dalam penelitian ini teknik realibilitas yang digunakanadalah Alpha Cronnbach dengan rumus yang telah disederhanakan sebagai berikut : α = k r 1 + ( k – 1 ) r
Keterangan :
k = jumlah butir
r = korelasi rata-rata antar butir
Kedua, uji validitas ; untuk mengetahui apakah alat ukur yang telah disusun benar-benar mengukur apa yang perlu diukur. Uji validitas berguna untuk menentukan seberapa cermat suatu alat melakukan fungsi ukurannya. Dalam penelitian ini uji validitas dilakukan dengan mengkorelasikan masing-masing pertanyaan dengan jumlah skor untuk masing-masing variabel. Angka korelasi yang diperoleh secara statistic harus dibandingkan dengan angka kritik tabel korelasi nilai r (product moment). Bila r hitung > r tabel berarti data tersebut valid dan layak digunakan dalam pengujian hipotesis penelitian. Dan sebaliknya bila r hitung < r tabel berarti data tersebut tidak valid dan tidak akan diikutsertakan dalam pengujian hipotesis penelitian. Ketiga, uji analisis faktor ; untuk menentukan faktor-faktor yang memotivasi pemegang kartu kredit menggunakan kartu kreditnya dan bukan pemegang kartu kredit perlu dilakukan analisis faktor terhadap variabel-variabelnya. Dalam hal ini analisis faktor juga relevan sebagai validitas konstruk yang menguji validitas skala secara keseluruhan (Anastasi, 1990). Analisis faktor merupakan tehnik statistik yang dipakai untuk mengurangi jumlah variabel yang banyak menjadi seperangkat variabel yang lebih sedikit atau untuk memahami pola antar hubungan di antara variabel-variabel yang diamati (Tabachnick & Fidell, 1983). Secara umum model analisis faktor dapat dirumuskan sebagai berikut :
Xi = Ai1 F1 + Ai2 F2 + …….. + Aik Fk + Ui
Dimana :
F = Common Faktor merupakan faktor yang dimiliki secara bersama oleh beberapa variabel.
U = Unique Faktor merupakan faktor yang dimiliki oleh suatu variabel yang tidak dapat dijelaskan oleh Common Faktor.
A = Konstanta yang dipakai untuk menggabungkan faktor-faktor K.
Faktor-faktor diduga dari variabel-variabel yang dapat diamati dan dapat diestimasi gabungan linier dari variabel-variabel yang dapat dijelaskan pada rumus berikut :
Fj = Wji Xi = Wji X1 + Wji X2 + ……. + Wjp Xp
Dimana : Wj merupakan koefisien skor-skor faktor yang diketahui dan p merupakan
jumlah variabel. Proses analisis faktor mencoba menemukan hubungan (interrelationship) antar sejumlah variabel-variabel yang saling independent satu dengan yang lain, sehingga dapat dibuat satu atau beberapa kumpulan variabel yang lebih sedikit dari jumlah variabel awal. Pada dasarnya tujuan analisis faktor adalah Data Summarization yaitu mengidentifikasi adanya hubungan antar variabel dengan melakukan uji korelasi antar variabel. Besar korelasi parsial diberikan lewat pilihan Anti-Image Correlation. Pengujian seluruh matrik korelasi (korelasi antar variabel) diukur dengan besaran Bartlett Test Of Sphericity atau Measure Sampling Adequacy (MSA).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data yang diperoleh melalui penelitian dari 100 sampel adalah terdapat 50 orang pemakai dan 50 orang bukan pemakai kartu kredit dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Untuk pemakai kartu kredit dapat diketahui cluster atau kelompok pemakai kartu kredit yang terdiri dari kelompok pemakai jarang (1-3 kali), kelompok pemakai sedang (4-6 kali) dan kelompok pemakai sering (> 6 kali) yang dapat dilihat pada table berikut ini :
Tabel 1 Cluster Pemakai Kartu Kredit

Pemakai
Jarang
(1-3 kali)
Pemakai
Sedang
(4-6 kali)
Pemakai
Sering
(> 6 kali

%
%
%
Usia



25-32 tahun
33-40 tahun
41-48 tahun
49-56 tahun
>56 tahun
28
24
6
0
2
10
6
4
6
2
6
4
2
0
0
Pendidikan



SD/SMP
SMA
Diploma
S1
S2/S3
0
6
38
36
10
0
2
6
18
2
2
2
6
2
0
Pengeluaran
RT



Rp 2 jt ≤ x ≤
Rp 3jt
Rp 3 jt ≤ x ≤
Rp 4,5 jt
Rp 4,5 jt ≤ x
≤ Rp 6 jt
Rp 6 jt ≤ x
≤Rp 8 jt
Rp 8 jt ≤ x ≤
Rp 10 jt
> Rp 10 jt
38

14

4

2

2

0
6

8

10

2

2

0
2

8

0

0

0

2
Jabatan



Direksi/GM
Manajer
Staff/SPV
Lainnya
2
0
48
10
2
8
18
0
2
0
8
2
Sumber : Data yang diolah

Pada tabel 1 dapat diketahui distribusi subyek berdasarkan usia, tingkat pendidikan, jumlah pengeluaran rumah tangga, dan jabatan. Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa untuk kelompok usia 25-32 tahun menghasilkan presentase yang paling banyak dari masing-masing kelompok pemakai kartu kredit, yaitu pemakai sering sebanyak 6%, pemakai sedang 10% dan pemakai jarang 28%. Kelompok pemakai berdasarkan pendidikan yang paling dominan adalah pendidikan sarjana (S1) untuk pemakai jarang sebanyak 36% dan pemakai sedang sebanyak 18% sedangkan pendidikan diploma yang paling dominan untuk pemakai sering sebanyak 6%. Kelompok yang dominan dalam pengeluaran rumah tangga adalah pemakai jarang sebanyak 38% dengan pengeluaran rumah tangga Rp 2.000.001–Rp 3.000.000. Pemakai sedang sebanyak 10% dengan pengeluaran rumah tangga sebesar Rp 4.500.001–Rp 6.000.000 dan untuk kelompok pemakai sering sebanyak 8% dengan pengeluaran rumah tangga Rp 3.000.001–Rp 4.500.000. Jabatan Staff/SPV memiliki presentase yang paling banyak untuk semua kelompok pemakai kartu kredit dibandingkan jabatan lainnya. Untuk pemakai jarang sebanyak 48%, pemakai sedang sebanyak 18% dan pemakai sering 8%. Sedangkan untuk faktor-faktor yang memotivasi pengguna kartu kredit untuk menggunakan kartu kreditnya terdiri dari 2 faktor yaitu : faktor keunggulan yang berisikan variabel praktis, diskon khusus dan reward. Serta faktor kemudahan yang berisikan variabel cadangan uang, fasilitas dan kemudahan, beli sekarang dan membayar kemudian.  Faktor-faktor yang memotivasi bukan pengguna kartu kredit untuk tidak menggunakan kartu kredit terdiri dari 1 faktor yaitu faktor tidak butuh yang berisi variabel belum perlu akan kartu kredit, belum tertarik akan kartu kredit dan tidak suka akan bentuk kredit.

DAFTAR PUSTAKA
Cakravorti, Sujit, (2003), “Theory Of Credit Card Networks : A Survey Of The Literature”, Journal of economics, vol.2 no.2 hal 50-68
Eka, Ni Putu dan Jubaedah, (2007), “Analisis Pemegang Kartu Kredit di DKI Jakarta”, Laporan penelitian, Universitas Pembangunan Nasional, Jakarta.
Gunawan, Aries Indra, (2005), “Pengaruh Karakteristik Pemegang Kartu dan Fitur Layanan Terhadap Transaksi Kartu Kredit”, Tesis, Universitas Gunadarma, Jakarta.
Hayashi, Yuka, (2006), “In Japan, Bank and Consumers Turn to Plastic ; Lender Seek New Growth Areas As Traditional Business Declines ; Swapping Cash for Credit Cards”; Wall Street Journal, Eastern edition, New York
Hurriyati, Ratih, (2008), “Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen”, edisi 2, CV. Alfabeta, Bandung.
Kasmir, (2002), “Dasar-dasar Perbankan”, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Pawitra, Teddy, (2002), “Perilaku Konsumen dan Komunikasi Pemasaran”, edisi 2, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.
Pinto, Marybeth and Marry Jo Bitner, (2008), “Consumer Vulnerability and Credit Card Knowledge Among Developmetally Disable Citizens”, Journal of Consumer Affairs, Vol 42, edisi 3, hal 425-439
Rizqasari, Indriati, (2005), “Pengaruh Karakteristik Individu Terhadap Persepsi dan Tingkat Pengguna Kartu Kredit Pada Karyawan Bank”, Tesis, Universitas Gunadarma, Jakarta.
Sarwono, Jonathan, (2005), “Teori dan Praktik Riset Pemasaran dengan SPSS”, CV. Andi Offset, Yogyakarta.
Simamora, Bilson, (2004), “Riset Pemasaran ; Falsafah, Teori dan Aplikasi”, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Sujarweni, V. Wiratna, (2008), “Belajar Mudah SPSS Untuk Penelitian”, PT. Global Media Informasi, Yogyakarta.

ANALISIS
KESIMPULAN : Di jaman era globalisasi ini untuk melakukan transaksi, dapat digunakan berbagai sarana pembayaran, mulai dari cara yang paling tradisional, sampai dengan cara yang paling modern sekalipun. Sejalan dengan perkembangan jaman ditemukan cara yang paling efisien dan efektif untuk melakukan transaksi pembayaran yaitu dengan menggunakan kartu plastik atau lebih dikenal dengan kartu kredit yang mampu menggantikan fungsi uang sebagai alat pembayaran. Ada yang menggunakan kartu kredit untuk mempermudah hidupnya dan sesuai dengan gaya hidupnya dan ada pula yang tidak menggunakan kartu kredit itu sesuai dengan gaya hidupnya. Karena gaya hidup individu itu berbeda dengan individu yang lainnya. Faktor-faktor yang memotivasi bukan pengguna kartu kredit untuk tidak menggunakan kartu kredit terdiri dari 1 faktor yaitu faktor tidak butuh yang berisi variabel belum perlu akan kartu kredit, belum tertarik akan kartu kredit dan tidak suka akan bentuk kredit.